Suku Arab Indonesia.. Bagian I

May 4, 2009 at 6:56 pm | Posted in Budaya | 1 Comment
Tags:

Suku Arab-Indonesia adalah penduduk Indonesia yang memiliki keturunan etnis Arab dan etnis pribumi Indonesia. Pada mulanya mereka umumnya tinggal di perkampungan Arab yang tersebar di berbagai kota di Indonesia — misalnya di Jakarta (Pekojan), Bogor (Empang), Surakarta (Pasar Kliwon), Surabaya (Ampel), Gresik (Gapura), Malang (Jagalan), Cirebon (Kauman), Mojokerto (Kauman), Yogyakarta (Kauman) dan Probolinggo (Diponegoro),dan Bondowoso — serta masih banyak lagi yang tersebar di kota-kota seperti Palembang, Banda Aceh, Sigli, Medan, Banjarmasin (Kampung Arab), Makasar, Gorontalo, Ambon, Mataram, Kupang, Papua dan bahkan di Timor Timur. Pada jaman penjajahan Belanda, mereka dianggap sebagai bangsa Timur Asing bersama dengan suku Tionghoa-Indonesia dan suku India-Indonesia, tapi seperti kaum etnis Tionghoa dan India, tidaklah sedikit yang berjuang membantu kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Kedatangan

Setelah terjadinya perpecahan besar diantara umat Islam yang menyebabkan terbunuhnya khalifah keempat Ali bin Abi Thalib, mulailah terjadi perpindahan (hijrah) besar-besaran dari kaum keturunannya ke berbagai penjuru dunia. Ketika Imam Ahmad Al-Muhajir hijrah dari Irak ke daerah Hadramaut di Yaman kira-kira seribu tahun yang lalu, keturunan Ali bin Abi Thalib ini membawa serta 70 orang keluarga dan pengikutnya.

Sejak itu berkembanglah keturunannya hingga menjadi kabilah terbesar di Hadramaut, dan dari kota Hadramaut inilah asal-mula utama dari berbagai koloni Arab yang menetap dan bercampur menjadi warganegara di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya. Selain di Indonesia, warga Hadramaut ini juga banyak terdapat di Oman, India, Pakistan, Filipina Selatan, Malaysia, dan Singapura.

Terdapat pula warga keturunan Arab yang berasal dari negara-negara Timur Tengah dan Afrika lainnya di Indonesia, misalnya dari Mesir, Arab Saudi, Sudan atau Maroko; akan tetapi jumlahnya lebih sedikit daripada mereka yang berasal dari Hadramaut.

Perkembangan di Indonesia.

Kedatangan koloni Arab dari Hadramaut ke Indonesia diperkirakan terjadi sejak abad pertengahan (abad ke-13), dan hampir semuanya adalah pria. Tujuan awal kedatangan mereka adalah untuk berdagang sekaligus berdakwah, dan kemudian berangsur-angsur mulai menetap dan berkeluarga dengan masyarakat setempat. Berdasarkan taksiran pada 1366 H (atau sekitar 57 tahun lalu), jumlah mereka tidak kurang dari 70 ribu jiwa. Ini terdiri dari kurang lebih 200 marga.

Marga-marga ini hingga sekarang mempunyai pemimpin turun-temurun yang bergelar “munsib”. Para munsib tinggal di lingkungan keluarga yang paling besar atau di tempat tinggal asal keluarganya. Semua munsib diakui sebagai pemimpin oleh suku-suku yang berdiam di sekitar mereka. Di samping itu, mereka juga dipandang sebagai penguasa daerah tempat tinggal mereka. Di antara munsib yang paling menonjol adalah munsib Alatas, munsib Binsechbubakar serta munsib Al Bawazier.

Saat ini diperkirakan jumlah keturunan Arab Hadramaut di Indonesia lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah mereka yang ada di tempat leluhurnya sendiri. Penduduk Hadramaut sendiri hanya sekitar 1,8 juta jiwa. Bahkan sejumlah marga yang di Hadramaut sendiri sudah punah – seperti Basyeiban dan Haneman – di Indonesia jumlahnya masih cukup banyak.

Keturunan Arab Hadramaut di Indonesia, seperti negara asalnya Yaman, terdiri 2 kelompok besar yaitu kelompok Alawi (Sayyidi) keturunan Rasul SAW (terutama melalui jalur Husain bin Ali) dan kelompok Qabili, yaitu kelompok diluar kaum Sayyid. Di Indonesia, terkadang ada yang membedakan antara kelompok Sayyidi yang umumnya pengikut organisasi Jamiat al-Kheir, dengan kelompok Syekh (Masyaikh) yang biasa pula disebut “Irsyadi” atau pengikut organisasi al-Irsyad.

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ADAKAH PENJAJAHAN ARAB?

    Oleh : Indra Ganie

    Selasa, 21 Juni 2011

    • Mengenang 5 abad (1511-2011) awal penjajahan di Nusantara
    • Mengenang 110 tahun (1901-2011) lahir Soekarno
    • Mengenang 65 tahun (1946-2011) gugur pamanku R Supardan di Front Karawang-Bekasi
    • Renungan terhadap para TKI di Arab yang diperlakukan seenaknya

    Beberapa hari terakhir ini Indonesia digegerkan dengan info hukuman mati seorang TKI di Arab Saudi yaitu sebut saja dengan nama Ry binti SS, suatu kasus yang bukan pertama dan agaknya bukan yang terakhir. Penulis mendapat kesan agaknya dari sekian banyak kasus TKI diperlakukan seenaknya di negeri Arab, kasus inilah yang paling heboh hingga saat ini. Sepertinya sejumlah anak bangsa sudah habis kesabaran terhadap kasus semacam ini, suatu hal yang wajar mengingat sedikit banyak terkait dengan harga diri bangsa. Seakan-akan bangsa Indonesia adalah bukan manusia atau setengah manusia, sehingga “layak” diperlakukan tidak sebagai manusia seutuhnya.

    Sesungguhnya kisah-kisah pilu para TKI di luar negeri tidak hanya terjadi di dunia Arab, namun terkesan bahwa kasus-kasus ini sering terjadi di sana. Yaitu suatu dunia yang dihuni mayoritas Muslim sebagaimana halnya Indonesia, yang diharapkan ada semacam “ukhuwwah Islamiyyah” dalam menjalin hubungan tingkat apapun.Dan ironisnya, orang Indonesia diperlakukan seenaknya di negeri Arab justru keturunan Arab diperlakukan enak di Indonesia, ada yang dicium tangannya karena konon keturunan nabi. Orang-orang yang dikenal dengan habib, syarif dan sayid sudah lama mendapat perlakukan enak di dunia (mayoritas) Muslim termasuk di Indonesia.

    Penulis menilai bahwa perlakuan kejam para majikan Arab terhadap pelayan rumah tangga tidaklah terlepas dari budaya Arab yang pada dasarnya tidak beradab. Budaya Arab berciri feodal, patriarkal dan brutal. Kaum perempuan nyaris tak punya hak, sejumlah negara Arab masih menganut monarki absolut – bahkan yang menganut republik juga sulit dinilai demokratis. Contoh yang nyata antara lain Suriah, Presiden Hafizh Assad diganti oleh putranya yaitu Bashar Assad. Mesir nyaris meniru Suriah, Presiden Muhammad Husni Mubarak berniat menunjuk putranya yaitu Jamal Mubarak sebagai penggantinya namun keburu tumbang oleh demo rakyatnya. Ada lagi bentuk feodal, perbudakan di dunia Arab baru resmi berakhir pada 1960-an, namun perlakuan terhadap pelayan rumah tangga – terutama warga asing – masih tidak beda jauh dengan budak.

    Mengenai budaya brutal dapat disimak dari sejarah Arab yang penuh dengan kekerasan atau pertumpahan darah. Diantara mereka sulit bersatu, rasa kesukuan dan kekeluargaan lebih menonjol dibanding kebangsaan. Persatuan yang dengan susah payah diwujudkan oleh Nabi Muhammad hanya bertahan sekitar 30 tahun. Persaingan lama antara Bani Hasyim dan Bani Ummayyah – padahal mereka masih satu silsilah – muncul kembali dalam bentuk yang lebih keras : pertumpahan darah yang berkepanjangan. Pada abad-10 imperium Arab yang membentang dari Iberia hingga Turkistan terbagi 3 kerajaan besar – yang kalau diusut masih keluarga besar beliau – yaitu : Ummayyah, Fathimiyyah dan ‘Abbasiyyah.

    Riwayat Kerajaan Arab Saudi juga tak terlepas dari pertumpahan darah yang mengerikan. Berawal dari gerakan sosio-religi yang muncul dari duet “2M” yaitu ulama militan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab dan penjahat kejam Muhammad bin Sa’ud pada abad-18, mereka melakukan serentetan kampanye berdarah untuk menjadi penguasa di Arabia. Dinasti Sa’ud melaksanakan hukum yang kaku, pemahaman yang tekstual atau skriptualis terhadap teks ayat dan hadits nyaris tanpa menyimak latar belakang munculnya ayat dan hadits membuat citra buruk bagi Islam dan kaum Muslim. Hal ini dapat terjadi karena mayoritas orang di seantero dunia masih sulit membedakan mana agama Islam dan mana budaya Arab, termasuk di Indonesia. Di Indonesia cenderung ada anggapan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik hendaklah (atau mungkin haruslah) “Arab minded” atau meniru Arab, semisal pelihara brewok, pakai surban, pakai kafiyah, pakai gamis atau perempuan pakai cadar.

    Perlu diketahui bahwa persekutuan Saudi-Wahhabi berdasar kesepakatan yaitu Wahhabi mendukung keluarga Sa’ud menjadi penguasa turun temurun dan keluarga Sa’ud berjuang menyebar faham Wahhabi ke seantero dunia.

    Perihal faham Wahhabi, pada dasarnya tidak ada yang baru. Faham tersebut adalah “kembali pada Islam yang berdasar kitab dan sunnah”, memberantas syirik, bid’ah, khurafat dan takhyul. Ditinjau dari ini memang menarik karena begitulah tuntunan dalam Islam. Dan mayoritas kaum Muslim pada dasarnya tidak keberatan.

    Persoalan menjadi lain ketika mereka memaksakan fahamnya kepada orang lain, bahkan menganggap kafir siapapun yang tidak sefaham walau orang tersebut masih Muslim. Penulis teringat dengan gerakan Khawarij yang muncul pada abad-7, dengan faham “siapa yang tak berhukum kepada Allah adalah kafir” walau dia syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Wahhabi dan Khawarij memiliki riwayat brutal yang panjang justru lebih banyak terhadap sesama Muslim dibanding non Muslim. Konon, sejak abad-18 hingga Kerajaan Arab Saudi terbentuk pada 1932, gerakan Saudi-Wahhabi telah membunuh sekitar 400.000 orang dan mencederai sekitar 350.000 orang, yang semuanya adalah Muslim. Berdasarkan latar belakang di atas penulis harap semua tidak heran lagi dengan kasus-kasus kekerasan di Arab Saudi.

    Telah disebutkan bahwa Dinasti Sa’ud berjanji akan menyebar faham Wahhabi, dan itu sampai ke Indonesia. Diperkirakan faham Wahhabi masuk ke Nusantara pada akhir abad-18, di Sumatera – tepatnya di Minangkabau – faham tersebut membentuk gerakan “Paderi” yang kelak mengobarkan revolusi melawan imperialisme Barat yang disebut dengan “Perang Paderi”. Walau gerakan tersebut dapat ditumpas namun fahamnya tidak. Di Jawa faham tersebut menjelma dalam gerakan yang “lebih santun” yaitu “Muhammadiyah”. Ormas ini tidak menempuh revolusi namun evolusi. Mengubah masyarakat secara “pelan tapi pasti” yaitu dengan cara pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Hingga kini Muhammadiyah masih ada dengan berbagai aset : sekolah, kampus, klinik dan hospital.

    Gejala-gejala gerakan Muslim militan dengan pengaruh Wahhabi (dan antara lain ada yang dengan sokongan Arab Saudi) muncul kembali pada tahun 1970 an, dan marak setelah rezim Orde Baru tumbang. Sejumlah ormas mulai berani bertindak anarkis – atau dicurigai sebagai teroris. Kasus pemboman Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott pada 2009 disinyalir terjadi karena ada aliran dana dari Timur Tengah dan warga sana terlibat. Agaknya Indonesia menghadapi apa yang disebut oleh Bung Karno dengan “nekolim” (neo imperialisme/kolonialisme). Selain pelakunya “pemain” lama yaitu Barat dan Jepang – yang (pernah) melakukan penjajahan secara fisik/militer, ternyata ada pemain baru yaitu Arab. Ketiga fihak ini kini melakukan pertarungan yang sengit namun tidak secara militer, yaitu menyebarkan faham-faham yang diusahakan membuat Indonesia merasa dekat – kalau perlu tergantung – dengan fihak asing. Dengan demikian penjajahan gaya baru terlaksana nyaris tanpa terasa, kita jalani hidup sehari-hari seakan Indonesia baik-baik saja. Jika Barat dan Jepang (kemudian Cina) dengan berbagai manuvernya lebih sejak awal kehadiran mereka di Indonesia nyata-nyata terutama adalah bidang/motif ekonomi, Arab agaknya lebih fokus pada bidang agama – minimal pada permulaan. Peluang yang tersedia bagi Arab untuk mempengaruhi Indonesia selain mayoritas penduduk negeri ini adalah Muslim adalah bangsa Arab dan bangsa Indonesia sama-sama mengalami penjajahan Barat. Indonesia dijajah Belanda dan Dunia Arab dibagi-bagi oleh penjajahan Inggris, Perancis, Spanyol dan Italia. Bahkan hingga kini kehadiran negara Israel dengan mencaplok Palestina adalah warisan penjajahan. Apa yang disebut “bangsa Israel” sesungguhnya adalah bangsa-bangsa Eropa yang (kebetulan) beragama Yahudi yang ditindas di benua tersebut lalu mengalir ke Palestina dengan bantuan Inggris, yang beberapa waktu menguasai Palestina dengan istilah halusnya “mandat”. Pendudukan militer asing di ‘Iraq yang dipimpin Amerika Serikat sejak 2003 semakin mengokohkan pendapat bahwa “Barat = penjajah”. Hal tesebut memudahkan muncul faham-faham yang disebut “garis keras” karena memakai kekerasan untuk mencapai tujuan, dengan istilah-istilah “radikalisme”, “fundamentalisme”, “ekstrimisme”, “militanisme” dan “terorisme”. Kesamaan agama yang dianut mayoritas kedua bangsa tersebut menyebabkan muncul solidaritas hingga faham garis keras tersebut masuk relatif mudah ke negeri ini.

    Penulis menilai sejak “Peristiwa WTC” 11/09/2011 faham garis keras dari Arab masuk (kembali) dengan begitu intens ke Asia Tenggara. Perang anti penjajah – dengan cap sebagai terorisme – yang dikobarkan kelompok “al-Qa-idah” pimpinan Usamah bin Ladin ke seantero dunia juga terasa di Indonesia. Perang kolonial yang kemudian berlanjut dengan perselisihan – bahkan benturan – sesama anak bangsa antara pendukung faham “negara agama” (Islam) dengan “negara bangsa” (Pancasila) sejak lama, menjadikan negeri ini lahan subur bagi faham/gerakan garis keras. “Revolusi Darul Islam” yang sempat melahirkan “NII” (Negara Islam Indonesia) yang berdarah-darah, walaupun dapat ditumpas ternyata tidak dapat menghapus mimpi/ide tersebut. Pasca kekalahan Darul Islam, sejumlah pengikutnya bergerak merekrut anggota walaupun terus menerus dihambat oleh pemerintah. Perioda yang disebut “reformasi” pada 1998 memberi kebebasan para aktivis berazaz Islam – baik yang ekstrim maupun moderat – untuk bergerak dengan rasa lega.

    Penyerbuan dan pendudukan pasukan asing pimpinan Amerika Serikat ke Afghanistan pasca Peristiwa WTC memaksa kaum militan bergerilya di dalam maupun di luar Afghanistan. Sel-sel al-Qa-idah pelan-pelan menyebar dan organisasi tersebut bukan hanya identik dengan nama organisasi namun juga telah menjadi ideologi kaum militan Muslim seantero dunia. Tambahan pula, sistem desentralisasi yang diterapkan kelompok tersebut menyebabkan aksi-aksi kaum militan dapat berlangsung terus walau pucuk pimpinan tertangkap atau terbunuh. Kematian Usamah bin Ladin pada awal Mei 2011 oleh sergapan pasukan khusus AS tidak mengakhiri aksi-aksi kaum militan. Mereka sudah tahu apa yang harus dikerjakan tanpa perlu izin atau perintah pucuk pimpinan.

    Di Indonesia, faham atau aktivis DI dan al-Qa’idah bertemu menghasilkan sejumlah aksi kekerasan (atau disebut teroris) semisal Bom Bali-1 (2002), Bom JW Marriott-1 (2003), Bom Kuningan (2004) dan Bom Bali-2 (2005). Walau aparat menangkap atau membunuh para tersangka, aksi-aksi militan masih berlanjut. Indonesia pasca Orde Baru seakan tak punya ideologi atau konsep yang jelas bagaimana mengelola negeri ini beserta isinya, ya alamnya ya manusianya. Keadaan tersebut agaknya merupakan peluang bagi sejumlah pengaruh/kepentingan asing untuk masuk dan bermain di negeri ini, termasuk dari Timur Tengah.

    Di atas telah disebut bahwa bangsa ini sulit membedakan mana Islam mana Arab. Dari riwayat Islam masuk kemari maka budaya Arab juga ikut masuk. Penulis ulangi, ciri budaya Arab antara lain feodal dan brutal, ini juga sama dengan budaya Indonesia. Sebelum pengaruh Timur Tengah masuk, riwayat kekerasan sudah ada di Indonesia mengingat sifat bangsa ini memang demikian. Masuknya pengaruh dari sana seakan “merestui” atau “melegalkan” kekerasan. Tatanan tidak adil baik level lokal maupun global menimbulkan reaksi keras dari fihak yang terpinggirkan atau tertindas dalam wujud tindak kekerasan. Sejak Orde Baru tumbang pemerintah seakan (terkesan) bimbang untuk menindak tegas aksi-aksi anarkis, pengalaman masa Orde Baru yang menindas yang berbeda faham dengan pemerintah membuat rakyat alergi atau trauma. Sehingga tindakan tegas dari pemerintah kini mudah dituduh sebagai melanggar hak azazi manusia.

    Ada lagi masalah, sebagai akibat cara-cara indoktrinasi ala Orde Baru melestarikan nilai-nilai kebangsaan atau menjadi penafsir tunggal terhadap Pancasila, rakyat trauma dengan segala simbol atau identitas bangsa semisal Pancasila, lagu “Indonesia Raya” – atau pelajaran sejarah bangsa yang disesuaikan dengan penguasa dengan maksud melegitimasi kekuasaan. Pemerintahlah yang menetapkan “siapa yang pahlawan” dan “siapa yang pengkhianat atau musuh bangsa/negara” dalam pelajaran sejarah.Akibatnya ketika rezim Orde Baru tumbang, pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” dan “Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa” dihapus dan dimasukkan ke dalam “Pendidikan Kewarganegaraan”. Inilah yang kelak dinilai sejumlah kalangan menjadi penyebab lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, ekstrimisme, terorisme dianggap sebagai akibat dari lunturnya rasa identitas bangsa.

    Sebagai dampak dari faham-faham militan dari Timur Tengah, penulis sempat menemukan tulisan di internet dengan menampilkan istilah “imperialisme Arab”. Mungkin istilah ini kurang akrab dibanding istilah “imperialisme Barat” namun kelak suatu saat akan akrab. Maka. sebelum nekolim dari Arab tersebut tidak berlanjut lebih jauh penulis mengusulkan :

    1. Kaum Muslim – terutama Muslim di Indonesia – segeralah membuang anggapan bahwa bahwa untuk menjadi Muslim yang baik hendaklah menjadi “Arab minded” atau meniru Arab. Fahamilah bahwa Islam dan Arab adalah 2 hal yang berbeda, Islam hadir pertama kali di Arabia untuk memperadabkan (budaya/bangsa) Arab yang pada dasarnya tidak beradab.
    2. Fahamilah bahwa Nabi Muhammad diutus untuk mengislamkan orang, bukan mengarabkan. Yang diubah dari umat manusia adalah spiritualnya, bukan identitas ras, suku atau bangsa. Seseorang dapat menjadi Muslim yang baik sekaligus tetap menjadi misalnya orang Cina, orang India, orang Jepang, orang Turki, atau orang Eropa.
    3. Bangsa ini perlu memperkuat rasa identitasnya sebagai bangsa dengan cara menyajikan kembali pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dengan demikian bangsa ini tahu asal muasal atau proses terbentuknya bangsa dan negara ini. Metoda hafalan (nama orang, nama tempat, nama peristiwa dan tanggal peristiwa) harus diganti dengan metoda renungan atau analisa peristiwa yang dapat ditemukan relevansinya dengan zaman kini. Jadi, terasa ada kesinambungan antara masa lalu dengan masa kini.
    4. Jika pelajaran Pancasila harus disajikan kembali, metodanya juga diubah. Jangan pakai metoda hafalan atau indoktrinasi, tapi pakai juga renungan atau analisa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
    5. Segala dinamika yang terjadi pada masyarakat segera disimak dan dicari solusinya, jangan terkesan ada pembiaran oleh pemerintah atau menjadi komoditas politik. Hal tersebut perlu untuk memperkecil peluang fihak asing masuk dan bermain di negeri ini sesuai dengan agenda mereka.
    6. Kurangi ketergantungan dengan fihak asing, Indonesia memiliki banyak hal yang tak dimiliki sejumlah fihak luar : alam kaya, wilayah luas dan letak strategis sungguh dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat jika dikelola dengan tepat. Kriterianya adalah selalu mengutamakan kepentingan nasional, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
    7. Bangsa ini perlu suatu standar penyaring yang dapat mencegah faham-faham yang merugikan kepentingan nasional masuk ke negeri ini. Dengan demikian segala faham luar dapat memperkaya dan bukan memperdaya bangsa, atau keragaman di dalam adalah kekayaan dan bukan kerawanan bangsa.

    Usulan yang disajikan penulis masih dapat dibahas dan bukan satu-satunya kebenaran mutlak, artinya masih terbuka untuk penyempurnaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: